Long Journey

Ironis (part 2)

Posted in Uncategorized by Adam Rinaldi on July 2, 2016

Tulisan kali ini agak-agak mirip sama tulisan yang pernah gue post beberapa tahun lalu, cuma gue lupa yang mana. Hehehe. Kalo ga salah yang judulnya Ironis.

 

Jadi, dalam hidup gue, entah kenapa gue selalu dideketin oleh sesuatu yang justru gue hindarin. Sebagai contoh, gue dulu ngga suka banget sama orang yang maen gitar. Buat gue, mereka itu sok. Tebar pesona. Beberapa tahun kemudian, gue malah belajar gitar. Berawal dari masa puber gue yang suka sama salah seorang temen cewe sekelas di SMP, akhirnya gue memutuskan menjilat ludah sendiri dengan belajar main gitar. Lama kelamaan malah menekuni sampe ikutan beberapa kali festival band dan bahkan pernah dibayar untuk ngajar dan main band. Ironis memang. Kalo contoh tersebut mungkin konteksnya masih dalam kesadaran dan kemauan gue ya. Nah, untuk beberapa kasus, gue seperti ditakdirkan untuk dekat/menekuni/mendalami hal-hal yang beneran gue hindarin. Contoh, gue pas SMA sangat ga suka pelajaran Akuntansi. Ulangan dengan nilai yang selalu do re mi menjadi bukti sahih bahwa gue harus jauh-jauh dari matpel tersebut. Hal itu bikin gue terpaksa masuk kelas IPA (yang mana gue juga ga suka Kimia dan Fisika) cuma daripada ketemu Akun, gue lebih baik ketemu 2 ilmu eksak itu aja. Sebenernya Kimia gue juga ga jauh-jauh dari nilai 1, 2, 3, tapi entah kenapa, gue lebih ikhlas daripada harus ketemu akuntansi. Segitu bencinya ya gue.

 

Berlanjut ke kuliah, gue milih Teknik Industri biar ngga ketemu lagi sama si Akun. Eh, ga taunya di mata kuliah gue ada dong?! Asli nyesek banget. Nilai gue pun jeblok dan harus ngulang. Untungnya sih cuma 2 SKS, dan gue harus mati-matian lolos tuh matkul dengan nilai akhir C. Bodo amat yang penting lolos deh.

 

Beberapa tahun kemudian, gue mulai tenang. Gue pikir, semua itu bakal berakhir. Ga akan ada lagi dah akuntansi dan analisis biaya kampret itu. Cuma tampaknya semesta berkata lain. Skripsi gue ternyata mengharuskan gue kembali berkutat dengan analisis biaya laknat supaya bisa lulus. Supaya tidak jadi mahasiswa abadi. Oh my, cobaan apa lagi ini. Jujur, walopun gue berkali-kali berhadapan dengan si akun ini, gue masih ngga nerti-ngerti ampe sekarang. Dan lo tau apa? Di dunia kerja gue kembali harus berjibaku sama dia. Posisi gue yang ngurusin laporan keuangan dan segala yang berbau duit, memaksa gue harus mendalami akuntansi (lagi) Dan tetep, gue masih ngga ngerti. Muahahaha. Bahaya banget nih perusahaan mempercayai urusan ke orang yang ngga kompeten.

 

Yah mungkin Tuhan punya cara sendiri supaya gue sadar. Supaya gue bisa terus belajar banyak hal, ya dengan jalan seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: