Long Journey

Sedikit Tentang DFM

Posted in Uncategorized by Adam Rinaldi on April 8, 2013

Sebelomnya gue ga pernah nulis tentang akademik. Yah sebagai pengingat aja kalo gue ini MASIH mahasiswa yang bergelut di jurusan Teknik Industri. Entah kenapa tiba-tiba gue pengen nulis tentang tema skripsi yang ngga jadi gue selesein karena beberapa hal. oke kita mulai.

Diawali pada taun 2010, gue mulai bingung menentukan topik apa yang bakal jadi tema tugas akhir gue, karena ya gue beneran ngga tau minat gue apaan di sini. Atas saran orang-orang, gue akhirnya memutuskan buat ngambil Teknik Produksi yang konon paling gampang diantara tema yang lain. Sebagai gambaran aja, ada beberapa tema yang ditawarkan. Teknik produksi, ergonomi, manufaktur, dan riset operasi. Tema favorit di kalangan temen-temen adalah teknik produksi, lalu ergonomi. Gue bimbang antara tekpro atau ergo. Ergo gue piker ngga akan ribet-ribet itungannya. Kebanyakan menggunakan metode observasi terhadap responden, lalu datanya diolah pake software statistik. Tekpro emang lebih luas, bisa menggunakan berbagai metode dan software. Jadi bisa dapet susah, bisa dapet gampang. Dua tema lain yaitu riset operasi dan manufaktur gue ga terlalu tertarik. Nilai mata kuliah yang berbau riset operasi gue ngga pernah lebih dari C. sedangkan manufaktur, gue ngerasa ribet aja berurusan dengan mesin-mesinan. Setelah memantapkan hati memilih tekpro, gue deg-degan nunggu dosen yang bakal bimbing. Untung aja gue dikasih pilihan judul. Kalo gue pikir-pikir, judul gue justru lebih ke manufaktur. Suatu hal yang gue hindari. Tapi dibanding pilihan laen yang kudu belajar statistik, simulasi, gue merasa lebih baik tema ini.

Design for manufacturing. Keren namanya. Tapi bener-bener membutuhkan ketelitian serta kreativitas dalam ngerjainnya. Kalo katanya Ulrich dan Eppinger dalam buku Product Design and Development (1995) dalam tahap DFM, desainer merancang sebuah produk yang telah ditetapkan konsep desainnya. Tujuannya adalah supaya dapat mempermudah proses fabrikasi sehingga mempercepat waktu proses pembuatan produk. Dengan demikian, kapasitas produksi dapat ditingkatkan.

Atau mungkin katanya Edward dalam jurnal yang berjudul Introduction to Design for Manufacturing and Assembly (DFMA) tahun 2009 menerangkan prinsip dasar dari DFMA, di antaranya adalah :

  1. Meminimalkan jumlah dan jenis komponen yang akan dirakit
  2. Mengurangi pengunaan pengencang (fasteners)
  3.  Pembuatan standar  (material, finishes, komponen, proses, peralatan, dll.)
  4. Hindari komponen yang sulit difabrikasi
  5. Mengurangi reorientation & assembler awkward movements (e.g. stooping, bending, reaching, tugging, balancing, etc.)
  6. Menggunakan self-locating feature (molded shapes, keying, chamfers, dimples)
  7. Hindari special tooling
  8. Mengurangi jumlah operasi dan langkah proses (contoh material handling yang berlebihan)

Gimana? Mayan ribet ya istilah-istilahnya. Yah intinya sih design for manufacturing ini merupakan tahap desain yang bertanggung jawab untuk menekan biaya dalam suatu  produksi. Sekilas kalo gue liat konsepnya ya gampang. Desain awal dari produsen gue otak atik sampe biaya tuh produksi turun. Emang bener sesederhana itu konsepnya. Tapi tahap dan variabel banyak yang kudu dipertimbangkan. Tahap pertama gue kudu membagi biaya manufaktur menjadi tiga. Biaya komponen, biaya perakitan, dan biaya overhead. Sebelom ngitung biaya komponen, gue kudu dapet informasi mengenai spesifikasi produk, kemudian bikin yang namanya Bill of Material. Jadi sebuah produk gue pecah-pecah dulu komponennya, gue tulis material yang dipake tuh komponen. Misal mobil-mobilan kayu terdiri dari bodi atas, bodi depan, bodi belakang, poros, dan roda. Tulis berapa jumlah dan material penyusunnya. Setelah itu, kan udah ketauan tuh materialnya apa aja yang dibutuhin. Ada kayu, cat, dan lain-lain. Perlu dipertimbangkan juga mana komponen yang kudu beli atau bikin. Setelah itu semua diputuskan. Biaya komponen terdiri dari komponen standard dan komponen custom. Sederhananya, komponen standard itu komponen yang ngga perlu proses permesinan atau dibikin dengan ribet. Kita bisa beli dalam jumlah massal. Contohnya baut atau paku ukuran standar. Kalo komponen custom itu komponen yang perlu dibikin khusus karena punya spesifikasi sendiri, ngga standar. Contohnya bodi sebuah produk yang dibuat dengan desain ngga biasa. Nah tuh komponen custom seringnya kita bikin sendiri, yang mana bakal jadi biaya permesinan. Biaya permesinan itu bisa dibilang biaya komponen custom. Setelah didesain, komponen custom dibikin melalui proses permesinan, entah itu dibubut, digergaji, digerinda, dibor, atau kombinasi dari itu. Nah tiap mesin kan kudu ada tuh waktu set-up sama waktu operasinya. Sesuai pepatah waktu adalah uang, waktu setup sama operasi juga ada biayanya. Waktu-waktu tersebut kudu dicatat dengan detil biar bisa diketahui biaya komponen secara akurat. Selain itu, mempermudah juga ntar kalo pas ada desain yang diubah. Kalo desain ada yang diubah, otomatis ada perubahan pengerjaan komponen juga dong. Misal tadinya tuh bodi mobil kudu digergaji dengan model tertentu dan makan waktu sebanyak 10 menit, dengan desain baru dia cuma perlu digergaji 5 menit. Otomatis ngurangin biaya kan? Mengenai biaya perakitan, itu adalah biaya pasang memasang komponen atau ngerakit. Hampir sama kaya biaya permesinan, cuma ini ngerakit aja. Misal, masang baut, masang bodi A ke bodi B. Nah yang rada gue bingung ya mengenai biaya overhead. Terus terang gue sangat ngga suka akuntansi. Makul Analisis Biaya aja 2 kali gue dapet C. jadi kadang suka bingung apa aja yang kudu masuk biaya overhead, ada biaya eskalasi, biaya penyusutan. Yang begitu-begitu emang gue rada kurang paham.

Gue perlu banyak data mengenai profil produk, material apa aja yang digunakan, proses permesinan apa saja yang dilewati, dan biaya overhead. Mata kuliah analisis kelayakan industri gue emang lumayan, dapet B. tapi itu juga hasil ujian buka buku, ditambah dosennya yang baik hati dalam memberi nilai. Dalam ngerjain skripsi ini, paling ngga gue kudu menguasai Perancangan dan Pengembangan Produk, Analisis Kelayakan Industri, Analisis Biaya, serta Teknik Manufaktur dan Produksi. Software yang kudu dikuasi Microsoft Excel dan Autodesk Inventor. Hambatan yang ditemui pertama adalah masalah data. Gue kesulitan dapet data lengkap mengenai proses permesinan produk objek penelitian gue. Proses permesinan kudu detail, langkah-langkahnya harus sesuai, setup dan operation time juga kudu dicantumin. Tapi apa daya, ga semua data itu gue dapetin, sehingga gue kudu menebak-nebak part ini dibuat dengan proses apa, apakah dibubut atau digergaji atau apa. Belum lagi dengan setup time masing-masing mesin. Gue lalu nanyain ke produsennya tentang proses pembuatannya. Ya karena objek penelitian gue ini merupakan maenan yang dibikin kelompok junior gue di kampus, maka gue kudu sering berkomunikasi dengan mereka. Namun ternyata mereka banyak yang lupa. Gue lalu ke Malioboro mencari pedagang yang menjual produk yang mirip. Mereka bilang kerajinan mainan kayu kebanyakan diambil dari Klaten. Bah jauh juga. Lalu gue mencoba ke tempat temen yang punya bengkel bubut buat nanya-nanya proses produksi. Setelah berkonsultasi sama dia, dapet pencerahan walaupun ngga puas karena dia juga ngga ngerjain kayu, bengkelnya nanganin besi. Yah paling ngga gue dapet gambaran part-part maenan kayu itu dibuat dengan proses apa aja, berapa setup dan operation time-nya. Informan gue yang laen yaitu temen yang pernah ngerjain skripsi rada mirip. Pas gue tanya gimana dia dapetin setup sama operation time tiap pengerjaan, dia malah ngakak sambil bilang “Kira-kira aja Dam. Gue ga tiap proses diitung pake stopwatch kok, malah hamper semua dikira-kira” Gue pengen sih ngira-ngira gitu, tapi ada yang ganjel rasanya. Apalagi dosen gue detil dan perfeksionis banget. Gue ngerasain bahwa ini ngga sesederhana yang gue kira.

Sebenernya yang gue tulis di atas masih mentah banget, masih dasar. Hanya konsep secara garis besar. Tapi paling ngga, dengan sedikit ilmu yang gue punya, gue pengen ngasi sesuatu yang berbeda pada tulisan kali ini. Biar blog gue ngga melulu isinya cinta-cintaan, galau-galauan, lucu-lucuan. Gue mencoba membagi ilmu yang gue punya dengan bahasa yang insyaAlloh lebih dimengerti dibanding buku kuliah. Dan gue juga yakin tulisan ini banyak salah dan kurangnya, karena gue juga ngga banyak masukin referensi buku maupun jurnal ilmiah. Semua itu hasil interpretasi otak gue doang atas apa yang gue baca dan pelajari. Jadi kalo ada master-master DFM ga sengaja baca ini, gue sangat berharap ada kritikan dan saran dari kalian, biar sharing ilmu ini bermanfaat bagi kita semua.

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Rahmat Ramadhani Bayu said, on March 4, 2015 at 21:58

    Selamat malam, saya rahmat dari Teknik Industri Universitas Telkom tahun ketiga. Saya sedang mengerjakan Tugas Akhir dengan mengunakan Design for MAnufacture and Assembly. Mungkin saya masih awam tentang masalah in tetapi mungkin bisa dijelaskan dengan menggunakan metode apa anda mengerjakannya
    Karena setau saya, ada beberapa metode untuk DFMA ini, seperti Boothroyf, Dewhurst, Lucas dan Hitachi

    • Adam Rinaldi said, on March 4, 2015 at 22:19

      Waduh lupa. Cuma seinget saya sih dosennya ngasih referensi Boothroyd, Dewhurst, sama Kaebernick yang judul bukunya Concurrent Engineering.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: