Long Journey

Masalah Selera

Posted in Pemikiran Ga Jelas by Adam Rinaldi on January 29, 2013

Dulu waktu SMP gue sempet diledekin gara-gara suka dengerin lagu boyband. Jaman-jaman itu emang band lagi booming banget, contohnya Dewa, Padi, Jikustik, Linkin Park, Limp Bizkit. Beberapa musik beraliran rock, hip metal, dengan lirik yang kasar seolah jadi standard musik yang cowo banget. Lagu slow, pop, dan dinyanyiin oleh boyband dianggep bencong. Sebagai abege labil yang tengah mencari jati diri, jelas dong gue ga terima selera musik gue direndahin seperti itu. Tapi bukannya mempertahankan selera, gue justru kebawa arus buat ikut dengerin musik-musik yang digolongkan musik cowo tersebut. Gue mulai malu beli kaset kompilasi Love Songs ataupun boyband. Sebaliknya, gue mulai beli kaset Limp Bizkit, Dewa, Padi. Tekanan pergaulan membuat gue tidak menjadi diri sendiri. Tapi gue bersyukur juga sih, dari situ gue mulai belajar main gitar, ngeband, dan nambah-nambah referensi musik gue.

Setelah beberapa lama gue mengamati dunia musik, ternyata ada satu hal yang menurut gue cukup menarik buat diperbincangkan. Masalah pengkotak-kotakkan genre, dari mulai anti terhadap suatu aliran musik ampe berantem yang serius berkedok idealisme. Ada musisi yang bilang bahwa musik menyatukan dunia, mendamaikan, tapi di lain waktu dia suka terang-terangan ngeledek musik ataupun personel suatu band. Band-band melayu sering jadi sasaran. Dulu Sheila on 7 sempet dikritik gara-gara musik mereka yang terlalu easy listening. Begitu pula Peterpan di awal kemunculannya, dianggep sebagai band pengamen dan kampungan. Beberapa orang mencaci orang lain yang suka terhadap band-band yang dianggap kampungan itu. Awalnya gue juga gitu sih. Tapi ternyata gue sadar bahwa kebencian itu dating bukan dari hati, melainkan kebawa arus orang-orang. Buktinya gue justru suka diem-diem dengerin lagu band itu.

Makin gede, gue ga terlalu mempermasalahkan genre. Semua tergantung kuping gue. Hampir semua genre musik gue suka. Pop, rock, hiphop, sampe musik tradisional daerah pun gue suka kalo emang nyantol di kuping. Gue sadar, semua itu bukan permasalahan berkelas atau tidak berkelas. Bagus atau jelek. Itu semua kembali ke selera masing-masing. Selera ngga boleh dipertanyakan, apalagi diperdebatkan. Lo suka Wali ngga berarti lo kampungan. Musik mereka emang lebih banyak dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah, tapi gue mengakui bahwa lagu mereka enak-enak. Belom lagi ada beberapa liriknya yang mengajak pada kebaikan. Gue salut sama mereka. Kangen Band pun gue ngga benci. Gue melihat mereka sebagai grup band, mendengarkan karya mereka. Bukan dari fisik ataupun kelakuan mereka di luar musik. Gue sering nyoba bikin lagu, dan gue akuin bahwa nulis lagu yang easy listening itu ngga gampang. Dream Theater itu band yang nonjolin skillnya di atas rata-rata, tapi entah kenapa gue ngga bisa enjoy ngedengerin karya mereka. Bukan berarti lagu mereka ga enak, bukan pula lagu mereka jelek. Itu semua karena masalah selera. Selera gue yang memang lebih menyukai musik easy listening. So, buat gue saling menghormati sesama musisi itu penting, bagi penikmatnya pun begitu. Kita boleh ngga suka sama suatu jenis musik ataupun musisi, tapi bukan berarti kita memusuhi sampe bikin gerakan anti-antian yang menyebarkan kebencian. Karena ga ada lagu bagus ataupun lagu jelek, ga ada musisi bagus atau musisi jelek, itu semua hanya masalah selera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: