Long Journey

Masalah Pembajakan

Posted in Uncategorized by Adam Rinaldi on December 22, 2011

Nih beberapa perubahan pada tampilan WordPress menurut gue kok malah jadi bikin ribet ya. Mau bikin postingan aja ribet kalk-klik ini itu. Enakan yang dulu, lebih simpel.
Lewat dari itu, udah lama gue ngga nulis yang bener-bener pemikiran atau pengalaman nih. Ada beberapa hal yang ngeganjel pikiran gue waktu melihat akun-akun twitter musisi, yaitu masalah pembajakan. Selain itu, ada juga yang nyinyir sama temennya sendiri gara-gara temennya itu minta CD gratis. Alesannya ngga ngehargain karya lah, ngga mendukung musik Indonesia. Gue, sebagai orang yang pernah membuat lagu, dan merasakan lagu gue didownload secara gratis sama orang lain, kayaknya ngga segitunya deh. Mungkin iya lagu gue jelek, ngga sebagus musisi-musisi tersebut dari segi kualitas rekaman, kualitas lagunya sendiri, atau kualitas suara gue yang kayak kaleng rombeng ini. Tapi gue tetep menciptakan karya sendiri. Nulis lirik, nyari nada, rekam musik dan vokal, rekam video, sampe upload ke dunia maya gue kerjain sendiri. Namun gue puas, ketika orang bilang “wah lagu lo enak” atau “lagu lo bagus” walaupun dengan kritik-kritik yang menyertainya. Oke, sekarang gue mencoba memahami dari pemikiran si musisi. Bagi dia, mungkin pengorbanannya begitu besar sehingga merasa kesal ketika ada orang yang bahkan cuma sekedar nanya link download lagunya. Berapa duit dan waktu yang dia korbankan untuk membuat sebuah album. Merasa karya dia dirampas, dicuri, setelah melakukan perngorbanan yang begitu besar. Tapi apa iya begitu? Sekarang, gue mau memaparkan apa yang selama ini ngeganjel di pikiran. Gue jabarin aja ya. Si musisi benci sekali dengan pembajakan, seenaknya nyuruh orang beli kaset atau CD asli dengan gampangnya. Setau gue, CD itu masih relatif mahal. Sehingga ngga semua orang mampu beli. Begitu juga dengan kaset. Walaupun ngga semahal CD, tentu orang bakal mikir berulang kali untuk memutuskan beli kaset atau makan sehari-hari. Padahal, si musisi juga didukung fans bukan hanya dari kalangan berduit. Malah mungkin justru dia kebanyakan didukung sama orang kelas menengah ke bawah, seperti yang jamak kita liat di tayangan musik lipsync atau minus one di tipi. Coba kalo ngga ada mereka, mana mungkin musisi itu bisa terkenal. Tu fans boleh dibilang kampung atau alay, atau disuruh dengan sarkas untuk membeli CD para musisi tersebut, tapi tanpa anak alay atau kampung itu, jadi apa di Indonesia? Artis kacangan? Toh dia juga nyanyi lagu menye-menye, pop, yang sebenernya ngga ditemukan sesuatu yang ‘wah’ dari lagu-lagunya kecuali aransemen dari musisi-musisi lain. Bukan dari dia sendiri. Dia tinggal pelajari lagu, nyanyi, beres. Gue pernah punya kaset ASLI album dia waktu awal-awal nongol di dunia musik. Gue ngeliat di sampulnya, pengen tau siapa aja pencipta lagunya. Ngga ada namanya. Cuman nama musisi-musisi beken macem Melly dan Tohpati. Bahkan malah lucunya justru ada satu lagu yang dibikinin sama ceweknya. Hahahaha..
Gue ngerti kalo sekarang banyak musisi yang emang cari makan dari profesi itu. Makanya dia bakal marah banget ketika karyanya dibajak. Cuman, kita juga ngga bisa nutup mata lah. Harga kaset dan CD yang masih relatif mahal bikin orang lebih seneng beli bajakan atau download. Musik itu hiburan paling murah. Gue miris aja pas ngeliat si artis itu di twitter koar-koar dan nyinyir masalah pembajakan atau download. Oke, dia mungkin emang ngga pernah beli bajakan atau download ilegal SEUMUR HIDUPNYA. Tapi liat dulu lah keadaan ekonomi keluarganya. Gue yakin dia berasal dari orang berduit atau mampu kalo emang selalu beli karya asli sepanjang hidupnya. Tapi apa dia ngga inget, bahwa selama ini dia terkenal karena orang-orang yang berasal dari kalangan menengah ke bawah? Yang lebih memilih mendownload lagunya daripada membeli album aslinya. Kita ngga bisa nutup mata sama keadaan itu. lagian gue juga mau tanya deh, mana idealisme bermusiknya? Bermusik untuk kepuasan diri dan menghibur orang lain. Idealisme yang menggebu-gebu ketika awal-awal terjun ke dunia musik. Toh selama ini dia juga ngga jatuh miskin karena pembajakan.
Mungkin sekarang bagi dia bermusik itu bukan untuk menghibur atau kepuasan diri lagi. Tapi lebih ke nyari duit. Emang ngga bisa disalahin sih kalo punya niatan gitu. Tapi gue jadi pengen tau, seandainya dia terus nyinyirin fansnya yang download-download, lalu ditinggalin, mau jadi apa dia? Toh selama ini duit dia, ketenaran dia, semua berasal dari fansnya. Fansnya mungkin emang ngga beli album asli, tapi kefanatikan mereka membuat stasiun tipi, promotor musik, berlomba-lomba make jasa sang penyanyi. Secara ngga langsung, fans-fans itulah yang menyambung hidup dia. Seandainya dia mau berfikir jauh untuk menemukan solusinya, mungkin dia bakal dapat respek yang lebih dari orang lain.
Oke, sekarang setelah gue paparkan permasalahannya, gue butuh yang namanya solusi. Terus terang aja, gue sendiri masih suka donlot-donlot album. Tapi ngga berarti gue ngga ngehargain para musisi. Ini hanya masalah duit. Buat gue, ketika gue udah bisa nyari duit sendiri, gue bakal menyisihkan untuk membeli CD asli atau download legal. Kayaknya picik banget kalo misal ngehargain musisi = HARUS beli album originalnya. Lah trus yang ngga mampu beli jadi ngga bisa nikmatin musik elo? Trus lo pikir orang yang mampu beli karya asli lo sebanyak orang yang ngga mampu beli karya lo? Gue pernah tergelitik sama fakta Slank atau Iwan Fals. Basis fans mereka mungkin yang terbesar di Indonesia, tapi gue belom pernah denger album mereka terjual sampe sejuta keping layaknya Dewa, Padi, atau Jamrud yang mana basis fansnya setau gue ngga sebanyak Slankers atau OI. Tapi Iwan fals dan Slank tetep bisa hidup dari bermusik. Tetep terkenal. Dan ngga sepi job manggung. Fans fanatik merekalah yang mendukung secara penuh dan gila-gilaan sehingga nama mereka berkibar terus. Mereka punya karya sendiri, ngga dibikinin orang lain (kecuali Iwan Fals yang pernah bikin album khusus isinya lagu dari ciptaan orang lain kayak Piyu atau Pongki) Ngga kayak musisi cengeng ngambekan yang tiap ditanya link download langsung nyinyir. Selain itu gue juga pengennya pemerintah bisa bikin regulasi yang nguntungin kedua belah pihak, dari sisi musisi maupun pendengar. Pendengar jelas pengen harga album musisi murah dan musisi juga pengen karya aslinya dibeli banyak. Trus solusi nyata untuk pemerintah apa? Ya silakan pemerintah pikir sendiri. Mereka dibayar oleh rakyat untuk memecahkan permasalahan. Masa rakyat udah bayar masih disuruh ikutan mikir juga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: