Long Journey

Kodrat

Posted in Uncategorized by Adam Rinaldi on April 23, 2011

Dari omongan banyak orang, katanya laki-laki itu dari Mars dan cewe dari Venus. Jelas berbeda. Karena itulah diciptakan untuk saling melengkapi. Punya kodrat yang berbeda. Beberapa kodrat cewe yaitu dandan lama, ga boleh nembak cowo duluan, nentuin/milih cowo yang pantes sama dia, hobi belanja, hobi ngegosip. Eh gue bukan maksud ngomong kejelekannya ya, cuma nulis beberapa sifat yang cewe anggap harus dimaklumin sama cowo. Ga heran banyak cewe gengsi nyiksa diri sendiri dengan cinta dia yang dipendem gara-gara bukan kodrat cewe sebagai pengejar atau penembak. Atau menuntut cowo harus memaklumi kebiasaan belanja yang menurut sebagian besar cowo termasuk gue, adalah aktivitas yang cape dan membosankan. Ngomong-ngomong tentang kodrat, gue jadi inget beberapa hari lalu adalah Hari Kartini. Hari di mana cewe-cewe berteriak tentang emansipasi. Kadang ada beberapa yang salah kaprah tentang ini. Gue ga menggeneralisir ya, cuma ngambil contoh beberapa aja nih. Ada cewe yang koar-koar pengen kesetaraan gender, ga pengen dikekang, pengen sederajat sama cowo, pengen disamain haknya sama cowo. Tapi entah kenapa ketika ngantri pengen didahulukan atas nama cewe, ketika berada di angkutan umum ngedumel kepada cowo yang ga ngasih tempat duduk ke dianya dengan alasan dia cewe jadi harus didahulukan, dan banyak hal lain yang bikin gue ga habis pikir. Kalo gitu tu orang egois dong. Mikirnya sempit, kaya gue. Hehehehe.. Buat gue sih kalo emang pengen kesetaraan gender, berlakukan hukum rimba. Siapa cepat dia dapat, siapa kuat dia menang. Ga peduli dari golongan apa, jenis kelamin apa, tua muda, kaya miskin. Tapi kan kita punya adab. Punya kodrat masing-masing.
Gue ga bisa memungkiri di era modern kaya gini perempuan emang harus diberikan hak serta kesempatan untuk berbuat sesuatu yang mungkin dulu tabu. Entah itu pendidikan tinggi atau mungkin karir. Pada dasarnya, gue adalah orang yang cukup jelas memberi batasan perbedaan cewe dan cowo. Gue punya standar sendiri dalam menentukan batasan dari kodrat masing-masing. Sebagai contoh, gue dari hati paling dalam, jujur, ga mau kalo misal punya istri, dia kerja. Gue pengen dia fokus mengasuh anak, kembali ke kodratnya sebagai ibu. Gue ga mau anak gue kekurangan kasih sayang dari ibunya, ga mau anak gue jadi lebih deket sama pengasuh/baby sitternya daripada sama ibunya sendiri. Tapi di lain sisi, gue ga memungkiri hari gini sangat sedikit cewe yang bercita-cita jadi ibu rumah tangga. Belom lagi realita yang terjadi sama temen-temen gue. Ada yang orangtuanya bercerai sehingga ibunya gelagapan ketika harus menghidupi si anak. Masih mending kalo cerainya baik-baik sehingga si anak bisa dapet tanggungan dari bapaknya, lah kalo ngga? Atau yang ditinggal meninggal suaminya. Hal itu membutuhkan ketegaran seorang perempuan. Ada yang gamang ketika harus bekerja karena ga terbiasa gawe nyari duit. Yang ada hidup dia bersama anaknya terkatung-katung. Okelah kalo janda kembang mungkin agak terselamatkan dengan kemungkinan dapet pengganti suami lebih cepet. Lah kalo ngga? Sehingga mau ngga mau, di jaman serba kejam seperti ini wanita pun berhak berkarir.
Ngeliat realita di atas, gue sempet berbincang-bincang sama 4 sobat gue. Ngomongin tema ini. Persis. Tentang gimana ntar memperlakukan istri masing-masing, apakah memperbolehkan atau melarang kerja. Dari jawaban mereka, semua sepikiran sama gue. Dalem hati, jujur, ga pengen istrinya kerja. Tapi ya ngeliat realita juga, bahwa sulit melarang cewe jaman sekarang untuk tidak bekerja. Apalagi gue. Si pacar yang sekarang ini merupakan calon terkuat istri gue ntar, ternyata orangnya ngga betah kalo ngga kerja tuh. Ga bisa diem. Ya emang tiap pilihan kan ada resikonya. Kalo dipikir-pikir, sisi positip dari cewe kerja adalah untuk membentuk sikap mandiri, in case kalo mereka pisah sama suaminya. Bisa juga untuk membantu finansial. Cuman ya sisi jeleknya adalah perhatian ke anak yang ga sebesar ibu rumah tangga.
Sekarang sih kembali lagi ke kebijakan masing-masing keluarga. Gue juga udah punya rencana sih yang insyaAlloh win-win solution bagi gue dan istri gue ntar. Hahahaha.. Kenapa jadi ngomongin beginian yak. Kejauhan banget. Haduh gara-gara kodrat sih. Ya pokoknya kesimpulannya adalah cowo dan cewe itu punya kodrat berbeda, yang mana masing-masing harus saling mengerti dan menghormati.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: