Long Journey

Cinlok Part II

Posted in Gue dan Dia by Adam Rinaldi on October 9, 2009

Ga bisa tidur. Syit.

Dan blog gue nampaknya udah haus akan sentuhan jari-jari gue, sehingga malam pun menstimulasi otak untuk membuat si blog  pelarian dari insomnia ini. Yah, kembali bertransformasi menjadi sentimental kampret untuk beberapa menit ke depan.

Gue jadi teringat sesuatu. Sesuatu yang suka bikin gue senyum-senyum kecil sendiri.

Tentang cinlok.

Cinlok kepada kamu.

Dan aku inget saat bertemu kamu untuk pertama kalinya. Ketika kusapu pandang sekeliling, aku langsung berhenti pada wajah itu.

1 detik, 2 detik.

Terpaku.

Sial. Nampaknya aku mulai mengagumi kamu.

Kamu yang sangat biasa. Ngga ada yang istimewa.

Tapi kamu udah membuatku tertegun luar biasa hanya lewat pandangan pertama.

Dalam sekejap aja, kamu bikin rasaku berdebar naek turun layaknya sensasi mengemudi di tanjakan Batur.

Dalam waktu yang singkat pula, kamu sukses membuat aku sering nongkrong di teras pondokan sampe bau kandang sapi pun ga sanggup mengganggu khusyuknya lamunanku.

Kamu juga berhasil membuat aku gugup setiap ketemu kamu, melebihi kegugupanku ketika harus menghadapi pemuda dusun yang agak tidak bersahabat.

Dan bumbu-bumbu cemburu terkadang membuat hatiku menjadi panas, yang bahkan ga mampu disaingin oleh panasnya waktu mengecat gapura Bunder di siang bolong.

Betapa spesialnya kamu waktu itu.

Membikin aku menjadi dangdut selama beberapa saat, walau singkat.

Makan pecel serasa salad, makan kerupuk beras serasa Pringles.

Yah, menjadikanku pujangga gagal karena ga mampu menganalogikan segalanya dengan bahasa yang indah, puitis, dan romantis.

Tapi, aku sadar ini salah.

Ketika kutahu akan semua kenyataan yang ada, aku hanya bisa ngejalanin hari-hari itu dengan kemunafikan.

Aku  cuma bisa pendam tuh rasa, kubiarkan menggenang, hingga akhirnya dia meluap lewat lirik absurd dan nada sederhana.

Sebuah lagu tentang sesuatu yang selalu mengingatkan aku sama kamu.

Lagu yang membuat aliran kenanganku bermuara pada dirimu.

Yang mungkin hanya akan aku ketawain di masa depan, sebagai cerita lalu yang konyol.

Cerita cinta lokasi.

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. gya said, on October 13, 2009 at 16:45

    CIEH. AHAHAHAHA. tanjakan batur, gapura bunder…..ahaaaaay

  2. Julianaputri said, on February 8, 2010 at 13:20

    ehem,,,sudah priksain diri ke dokter terdekat belom masnya?? hahaaaaa
    :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: