Long Journey

Suka Duka Tempat Sampah

Posted in Pemikiran Ga Jelas by Adam Rinaldi on March 1, 2009

Gue adalah orang yang cukup sering dicurhatin sama temen-temen. Ga tau kenapa, mungkin gara-gara mereka tau gue ga ada kerjaan, jadinya supaya hidup gue ga makan gaji buta dijadikanlah gue sebagai tempat cerita. Sebenernya seneng aja sih bisa dipercaya orang, bisa ngebantu walaupun cuma sekedar ngedengerin keluh kesah tanpa ngasih solusi berarti, bisa ngenal karakter sebenernya dari tiap orang, dan juga bisa tau bagaimana pandangan mereka atas suatu masalah. Hal seperti itu kadang menuntut kita untuk lebih banyak berpikir. Merenung. Menilai suatu masalah secara objektif. Mencari jalan keluar serta memandang persoalan dari perspektif yang berbeda. Sukur-sukur solusi hasil pemikiran kita bisa berguna bagi permasalahan tersebut. Kalo ngga, yah sebagai bahan pembelajaran aja.

Tapi, walaupun begitu, profesi tempat sampah (sebagian masyarakat menyebut orang yang dicurhatin mulu adalah tempat sampah) ini bisa seperti namanya. Tidak enak. Bukan karena kotor, bau, atau gimana (itu sih tergantung orangnya juga. Gue mah kaga bau. Jorok iya. Hehehe..) Cuma, ada saat-saat tertentu ketika sang tempat sampah harus menghadapi dilema. Contoh paling gampang adalah ketika gue harus menerima curhatan temen gue yang cewe, yang sedang bermasalah dengan cowonya. Sedangkan si cowo sendiri adalah temen baek gue juga. Gue bener-bener dituntut untuk berpikir ekstra agar bisa menilai masalah ini dari sisi objektif. Ga bisa gue berpihak ke si cewe gara-gara cuma denger cerita dari dia doang yang mungkin karena emosi, dia memaparkan secara subjektif. Bisa aja ntar menjelek-jelekkan si cowo. Dan akan menjadi sebuah kesalahan buat gue jika sampe gue berpihak kepada salah satu diantara mereka. Ya, di saat kayak gitu yang gue butuhkan adalah kepala yang dingin serta pemikiran yang dewasa. Tetapi kadang gue sadar. Ini gue. Adam. Yang menurut gue bahkan nyokap gue sendiri, belom dewasa. Masih childish. Moody dan seringkali berpikiran dangkal. Yah, emang sih ini ‘cuma’ masalah pacaran. Tapi karena sifat gue yang ngga enakan, jelas suka ada perasaan bersalah kalo ngga berbuat sesuatu. Dan ga sedikit juga kok curhatan tentang kuliah, pertemanan, bahkan keluarga yang diceritain ke gue. Yang mungkin bisa dibilang lebih berat ketimbang masalah pacaran *buat temen yang pernah cerita tentang pacaran, sori gue ga bermaksud nyepelein masalah kalian kok. Hehehe..* Dilema seperti itu juga ga jarang suka bikin gue merasa bersalah. Malah parahnya sampai terseret ke permasalahan yang temen gue punya. Sehingga ada juga pihak yang merasa dirugikan. Kalo udah sampe kayak gitu, gue nyerah. Padahal dari awal sih gue udah ngingetin, gue ga mau ikut terlalu jauh dalam masalah. Persoalan dalam pacaran gitu sebaiknya diselesaikan oleh yang bersangkutan. Si cewe dan si cowo. Gue pun suka menekankan, supaya mereka coba nyelesein masalah sendiri. Gue akan bantu hanya sebagai pendengar. Begitu. Cuma pada kenyataannya, gue terseret lagi. Yah, salah gue juga sih yang plin-plan dan ga tegaan. Hehehe…

Selaen dilema, kadang jadi tempat sampah tuh sering makan ati. Orang yang curhat suka ga kira-kira. Pernah ada yang cerita pas gue lagi bad mood dan gue ndiri sedang butuh orang laen. Cuma, sekali lagi, karena gue ga enakan jadilah gue rela ngedengerin dan berpikir buat solusinya. Gue bener-bener dituntut ekstra sabar untuk itu. Belom lagi dengan karakter orang yang berbeda-beda. Ada yang sangaaaatt rapuh, sepanjang cerita dikit-dikit nangis. Dikit-dikit ngeluh. Ada juga yang emosian. Dan apesnya, gue lah yang jadi tumpahan kemarahan. Marahnya ke siapaa, numpahinnya ke siapa. Yah nasip deh.. Terus, kebanyakan curhatan yang datang tuh masalah cinta-cintaan. Ini juga yang ironis. Gue yang notabene selalu gagal dalam percintaan, 80% persoalan yang diceritakan ke gue adalah masalah pacaran. Hahaha…menyedihkan.

Gue sendiri ampe sekarang ngga ngerti kenapa orang-orang itu sudi bercerita kepada gue. Padahal jujur aja, solusi yang gue kasih suka sama dengan orang lain. Istilahnya, standar lah. Semua orang juga tau harus ngelakuin hal itu ketika dia menghadapi masalah seperti itu. Ga ada yang spesial. Gue bukan orang psikologi. Gue bukan orang berotak cerdas. Gue belom bisa berpikir dewasa. Dan gue juga sebenernya tukang ngeluh. Tapi anehnya, ya itu. Masih ada aja yang percaya sama gue. Bukan karena GR, ga ikhlas, bosen, atau apa gue nyeritain ini semua. Cuma sekedar berbagi pengalaman suka dukanya menjadi tempat sampah aja. Hehehe..

Ada suatu waktu, ketika gue lagi cerita sama orang yang pernah jadi “klien” gue, dia nanggepinnya dengan asal. Malah keliatan banget bahwa dia lebih pengen dimengerti. Pas dia cerita, gue mendengarkan dengan saksama. Tanpa menyela ataupun mengalihkan pembicaraan. Fokus terhadap dia. Gue tidak bercerita tentang gue, orang laen, pokoknya gue ladenin lah dia selama beberapa jam itu. Namun ketika gue bercerita pada dia, ya seperti yang gue bilang di atas. Terlihat sekali adanya keegoisan dari seseorang. Pengen dingertiin, diperhatiin, tapi ga mau sebaliknya. Cuma gue sih ga terlalu nganggep itu soal besar. Sifat orang kan beda-beda. Dan itu merupakan pembelajaran juga buat gue. Supaya lebih sabar, lebih ikhlas, lebih dewasa, dan lebih objektif dalam memandang suatu masalah. Gue pun senang seandainya selama ini gue bisa berguna buat orang laen. Terutama mereka yang suka cerita ke gue. Yah, begitulah suka dukanya menjadi tempat sampah menurut gue. Dan semoga temen gue yang menginspirasi cerita ini (dia pernah ngeluh ke gue mengenai susahnya jadi orang yang dicurhatin karena sering dilema) bisa terwakilkan perasaannya. Bersyukurlah kita masih bisa dipercaya, masih mendapat kesempatan untuk belajar mengenal karakter orang, memecahkan masalah, serta mendapatkan semua pengalaman positif yang tidak mungkin tertulis satu-satu di sini.

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. anonimous said, on March 3, 2009 at 10:45

    wah,
    susah jg y jd elo dam.

    u r better than what u called “tempatsampah”

  2. Septine Wulandini said, on March 7, 2009 at 20:38

    hahahaaa
    nggak tempat sampah juga kali dam
    dengerin cerita orang kan bisa jadi salah satu pelajaran
    🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: